Surabaya, Penamadura.com – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDI Perjuangan Jawa Timur menegaskan komitmennya untuk terus menjaga hubungan erat dengan Nahdlatul Ulama (NU) dalam momentum Halalbihalal Syawal 1447 Hijriah, Minggu (12/4/2026).
Ketua DPD PDI Perjuangan Jatim, Said Abdullah, menyebut Jawa Timur sebagai basis kuat perpaduan antara kekuatan santri dan nasionalis atau yang dikenal dengan istilah “ijo-abang”.
Menurutnya, kedua kekuatan tersebut telah lama hidup berdampingan dan mengakar hingga ke tingkat masyarakat paling bawah.
“Ini bukan sekadar sejarah, tetapi realitas sosial yang terus terjaga sampai hari ini,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pembelahan antara kelompok santri yang identik dengan Nahdlatul Ulama dan kelompok nasionalis yang selama ini menjadi basis PDI Perjuangan, kini semakin mencair.
Bahkan, kata dia, banyak warga NU yang dalam praktik politiknya turut memberikan dukungan kepada PDI Perjuangan.
“Atas dasar itu, kami menegaskan bahwa PDI-P tidak akan meninggalkan NU,” tegasnya.
Said menilai, secara sosial kedua kelompok memiliki kesamaan tantangan, terutama dalam bidang ekonomi, pendidikan, dan akses pekerjaan. Karena itu, sinergi antara NU dan PDI-P dinilai penting untuk memperjuangkan kesejahteraan masyarakat.
Ia juga memaparkan bahwa NU memiliki peran besar dalam pemberdayaan umat, sementara PDI Perjuangan menjalankan fungsi politik melalui kebijakan publik di tingkat daerah hingga pusat.
Selain itu, ia menekankan kesamaan nilai ideologis antara keduanya, yakni menjunjung Islam wasathiyah atau Islam moderat yang mengedepankan keseimbangan, keadilan, dan toleransi.
Dalam kesempatan tersebut, Said juga membuka ruang bagi tokoh-tokoh NU untuk berkiprah di dunia politik bersama PDI Perjuangan.
“Kami berharap para kiai, gus, bu nyai, dan ning dapat berijtihad politik bersama kami untuk kemaslahatan umat,” katanya.
Ia menambahkan, keterlibatan tokoh agama dalam politik diharapkan mampu membawa dampak positif, tidak hanya dalam kehidupan beragama tetapi juga dalam aspek sosial kemasyarakatan.
Tak hanya itu, Said juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan di tengah derasnya arus informasi digital, termasuk fenomena post-truth yang dapat memicu perpecahan.
“Masyarakat harus mengedepankan tabayun, menjaga silaturahmi, serta menggunakan akal sehat dalam menerima informasi,” pungkasnya. (Red/Emha)






