oleh

UMM Perkuat Daya Saing UKM Ramuan Madura

Pena Madura, Sumenep 29 September 2019 – Ramuan Madura adalah obat tradisional yang dipercaya mampu memberikan manfaat yang sangat positif bagi kesehatan masyarakat, agar Ramuan Madura tetap eksis ditengah canggihnya obat-obatan modern saat ini, UMM tawarkan tehknologi tepat guna kepada para UKM Ramuan Madura.

Kehidupan modern dan era disrupsi, cenderung menggerus potensi tersebut sehingga sangat mungkin akan punah. Di sisi lain, masyarakat yang masih bertahan dengan ramuan tradisional memiliki keterbatasan sumberdaya dan pengetahuan, sehingga lambat laun dikhawatirkan hilang.

Tim dosen dari Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan kegiatan pengabdian masyarakat berupa Penerapan Teknologi Tepat Guna (PTTG) Kepada Masyarakat (yang diketuai oleh Dr. Abdulkadir Rahardjanto dan melibatkan STKIP PGRI Sumenep.

“Kegiatan tersebut bekerjsama dengan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Tahun Anggaran 2019,” kata Abdulkadir Rahardjanto, ketua pengabdian masyarakat berupa Penerapan Teknologi Tepat Guna (PTTG), Ahad (29/09/2019).

Abdul kadir Rahardjanto, mengaku kegiatan tersebut bermitra dengan dua kelompok masyarakat produsen ramuan tradisional khas Madura yang berdomisili di Kabupaten Sumenep, yaitu Gilang Emas (diketuai oleh Bapak Abdus Samad) dan Maju Jaya (diketuai oleh Bapak AbdurRahem). Keduanya berdomisili di Kecamatan Gapura.

Kedua mitra tersebut selama ini memproduksi ramuan dengan omset relatif kecil, produksi dalam skala kecil bahkan masih dalam skala rumah tangga, dan dengan jangkauan pemasaran yang masih terbatas.

“Mereka masih menggunakan peralatan dapur sederhana dan menggunakan dapur rumahnya untuk mengolah bahan-bahan jamu menjadi minuman jamu yang kemudian dimasukkan ke dalambotol air mineral”, ujar Abdulkadir Rahardjanto.

Menurut Pria yang juga Kaprodi S2 Pendidikan BiologiPascasarjanaUMM tersebut, Beberapa peralatan dan kondisi dapur memiliki kecenderungan untuk menurunkan tingkat higienitas ramuan yang sedang diproduksi, sehingga akan menyebabkan produk ramuan yang dihasilkan terkontaminasi oleh berbagai mikroba.

Proses produksi jamu secara garis besar adalah melalui penggilingan dan pemanasan yang tidak terkontrol. Pemanasan tersebut dapat menyebabkan kandungan gizi dari bahan ramuan mengalami kerusakan, terang Abdulkadir Rahardjanto.

“Kami bersyukur mendapatkan pendampingan dan bantuan dari tim dosen UMM,”terang  Abdus Samad, mitrakegiatan yang mengkoordinir GilangEmasGrup.

Sementaraitu, mitra lain Abdul Rahem, mengungkapkan bahwa mereka juga mendapatkan pendampingan pengurusan P-IRT. Mereka telah dihubungkan dengan Dinas Kesehatan Sumenep, sampai akhirnya produk memperoleh P-IRT. Dinas Kesehatan juga berjanji untuk ikut terlibat memberikan pembinaan dan perhatian lebih, agar usaha ramuan ini menjadi unggulan Kabupaten Sumenep.

“Kami berharap, tim UMM berkenan untuk terus memberikan pendampingan Kedepan juga dapat menyangkut aspek pengemasan yang lebih menarik, dan pemasaran menggunakan media sosial. Banyak kegiatan pameran yang mengundang Dinas Kesehatan Sumenep. Kita akan bersama-sama dengan Tim UMM melibatkan para mitra ini untuk mengikuti kegiatan pameran, sehingga produk-produknya akan semakin terkenal”, tambah Syaiful, perwakilan Dinas Kesehatan.Man/Emha

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.

News Feed