Madinah, Penamadura.com – Menjelang berakhirnya operasional penyelenggaraan ibadah haji 2026, Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) terus mengintensifkan pendampingan kepada jemaah Indonesia yang masih berada di Madinah. Melalui program visitasi di setiap kelompok terbang (kloter), petugas memastikan kebutuhan jemaah, khususnya lansia, tetap terpenuhi sekaligus memberikan penguatan pemahaman mengenai pelaksanaan ibadah Arbain.
Pembimbing Ibadah (Bimbad) PPIH Sektor 5 Daerah Kerja Madinah, Hj. Nunung Khoiriyah, mengatakan visitasi menjadi bagian penting dalam manajemen pelayanan haji karena menjadi sarana untuk memetakan berbagai persoalan yang dihadapi jemaah sekaligus memperkuat koordinasi antara petugas dengan ketua regu (Karu) dan ketua rombongan (Karom).
“Melalui visitasi kami dapat mengetahui berbagai kebutuhan jemaah, mulai dari kondisi kesehatan, pendampingan ibadah, pelaksanaan masuk Raudah hingga kegiatan city tour di Madinah,” ujarnya usai kegiatan sosialisasi di Hotel Mirage Taiba, Selasa (23/6/2026).
Menurut Nunung, perhatian khusus diberikan kepada jemaah lanjut usia. Berdasarkan data PPIH, sekitar 25 persen jemaah haji Indonesia merupakan lansia yang membutuhkan pendampingan lebih intensif, termasuk penyediaan kursi roda saat menjalankan ibadah.
“Koordinasi yang baik antara petugas kloter dan PPIH akan memudahkan pemenuhan kebutuhan jemaah lansia sehingga mereka tetap dapat beribadah dengan nyaman dan aman,” katanya.
Selain pendampingan, PPIH juga terus memberikan edukasi kepada jemaah mengenai pemahaman ibadah Arbain. Pembimbing Ibadah Kloter SUB 104 Surabaya, Toha Saifuddin, mengingatkan agar jemaah tidak memaksakan kondisi fisik demi mengejar target 40 kali salat di Masjid Nabawi.
Menurutnya, banyak ulama memaknai Arbain sebagai 40 kali salat di Masjid Nabawi, yang dapat dipenuhi melalui salat wajib maupun salat sunah seperti dhuha, tahajud, hajat, dan taubat.
“Ibadah harus disesuaikan dengan kemampuan fisik. Menjaga kesehatan juga merupakan bagian dari menjalankan perintah Allah sehingga ibadah dapat dilakukan dengan lebih khusyuk,” jelas Toha.
Ia juga mengimbau jemaah untuk menjaga pola makan, memperbanyak konsumsi air putih, serta mengatur aktivitas selama berada di Madinah mengingat suhu udara yang masih cukup tinggi.
“Dalam kondisi cuaca di Madinah, kebutuhan cairan tubuh bisa mencapai tiga hingga empat liter per hari agar tubuh tetap bugar dan siap menjalankan ibadah,” pungkasnya.
(M. Hariri, Media Center Haji 2026)
