Mencari Sosok Sekda Sumenep*
Pemerintah Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, akan menghadapi proses penting dalam pengisian jabatan strategis Sekretaris Daerah (Sekda).
Posisi ini bukan sekadar jabatan administratif, melainkan jantung dari birokrasi pemerintah daerah yang mengatur koordinasi antar perangkat daerah dan menjembatani kebijakan bupati kepada para pelaksana teknis.
Kabupaten paling timur Pulau Madura itu sebentar lagi akan ditinggal Sekda Sumenep saat ini yakni Edy Rasiyadi yang akan purna tugas sejak 1 September 2025 mendatang.
Sosok Sekda Edy yang selama ini dikenal rendah hati namun tegas itu dipastikan akan meninggalkan jabatan yang selama ini ia emban selama tujuh tahun terakhir sejak 2018 silam.
Kepada media, Sekda Edy mengaku akan menikmati masa pensiunnya nanti dengan fokus pada kegiatan wirausaha dan sosial.
Maka dari itu, sebelum jabatan Sekda Sumenep benar-benar ditinggalkan penghuninya, Pemerintah Kabupaten Sumenep kini menyiapkan seleksi untuk mengisi jabatan sekda itu.
Perhatian publik pun meberka-nerka pada siapa kira-kira figur yang layak menduduki kursi Sekda Sumenep berikutnya setelah sosok Edy Rasiady.
Masyarakat berharap, pejabat yang akan terpilih nantinya bukan sekadar birokrat senior, tetapi juga memiliki integritas, kapasitas manajerial, serta pemahaman mendalam tentang karakteristik lokal Sumenep.
Sumenep, sebagai daerah kepulauan dengan keragaman budaya, geografis, dan tantangan pembangunan yang tidak sedikit, membutuhkan Sekda yang bukan hanya pandai menyusun strategi di atas kertas, tetapi juga mampu bergerak cepat dan tepat di lapangan.
Daerah yang mempunyai 126 pulau itu membutuhkan Sosok Sekda yang adaptif terhadap perubahan dan berorientasi pada pelayanan publik tentu menjadi harapan besar masyarakat Sumenep.
Pemkab Sumenep sendiri diyakini akan melalui mekanisme seleksi terbuka (open bidding) sesuai peraturan yang berlaku, guna menjamin transparansi dan objektivitas dalam menentukan figur terbaik.
Proses ini diharapkan tidak hanya menjadi formalitas, tetapi benar-benar menjaring sosok yang memiliki rekam jejak baik serta visi membangun birokrasi modern dan responsif.
Masyarakat, pengamat kebijakan publik dan media berharap, bupati dapat melibatkan berbagai masukan dalam proses ini, termasuk dari tokoh masyarakat, ASN senior, hingga kalangan akademisi yang paham arah pembangunan daerah.
Hal ini penting agar pemilihan Sekda tidak hanya berbasis pada senioritas, tetapi juga pada kapabilitas dan nilai strategis yang dibawa sehingga nantinya mampu menerjemahkan arah kebijakan serta pembangunan daerah yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakatnya.
Di tengah isu-isu reformasi birokrasi dan kebutuhan mempercepat pelayanan publik, Sekda menjadi figur kunci untuk memastikan bahwa roda pemerintahan tetap berjalan efektif, efisien, dan berorientasi pada kepentingan rakyat. Tanpa sosok Sekda yang kuat, program-program unggulan daerah bisa terhambat dalam implementasi.
Tidak kalah penting, Sekda harus memiliki kemampuan komunikasi dan koordinasi lintas sektor. Sebagai koordinator seluruh kepala OPD, Sekda wajib menjadi pemimpin yang dihormati, mampu meredam konflik internal, serta menjadi penggerak budaya kerja profesional di lingkungan Pemkab Sumenep.
Sumenep kini berada dalam momentum penting dalam menentukan arah birokrasi ke depan. Pemilihan Sekda bukan sekadar rotasi jabatan, melainkan bagian dari desain besar tata kelola pemerintahan yang bersih dan efektif.
Masyarakat Sumenep tentu menantikan, bukan hanya siapa nama yang akan mengisi posisi Sekda, tapi lebih dari itu: seperti apa kualitas dan visi yang akan diusung oleh pemimpin birokrasi tertinggi di Kota Keris Sumenep itu.
Masyarakat Sumenep kini berharap semoga proses pencarian dan seleksi ini bisa melahirkan figur Sekda yang tidak hanya memenuhi persyaratan administratif, tetapi juga mampu memberi energi baru dalam mewujudkan Sumenep yang lebih maju, melayani, dan berdaya saing sesuai dengan semangat besar “Bismillah Melayani”.
(Redaksi)





