Pena Madura, Regional, 5 November 2025 – Ketua Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Jawa Timur, Wahyu A. Priambodo, menegaskan pentingnya membangun kemandirian ekonomi umat dari tingkat paling bawah, yakni r anting NU.
Hal itu disampaikan Gus Wahyu, sapaan akrabnya dalam kegiatan Penguatan Program Kerja dan Koordinasi LPNU Lamongan, yang digelar pada Sabtu (1/11). Acara tersebut juga menjadi momentum peluncuran program Satu Ranting Satu Brand (SRSB), sebuah inisiatif inovatif dari LPNU Lamongan untuk mendorong setiap ranting NU memiliki produk unggulan lokal sebagai identitas dan sumber daya ekonomi jamaah.
Kegiatan yang menargetkan 90 peserta itu dihadiri lebih dari 120 peserta, mencerminkan antusiasme tinggi warga NU terhadap gerakan ekonomi berbasis jamaah dan kemandirian struktur organisasi.
Dalam arahannya, Wahyu A. Priambodo menilai program SRSB sebagai bentuk nyata transformasi ekonomi berbasis struktur sosial NU yang telah lama hidup dan berakar kuat di tengah masyarakat.
“Kemandirian ekonomi NU tidak akan lahir dari proyek besar semata, melainkan dari gerakan kecil yang konsisten di tingkat ranting. Ketika satu ranting memiliki satu produk unggulan dan jamaahnya menjadi konsumen utama, maka kita telah membangun fondasi ekonomi umat yang kokoh dan berdaulat,” ujarnya.
Sebagai Ketua LPNU Jawa Timur, Gus Wahyu dikenal aktif mendorong sinergi lintas struktur dan penguatan kapasitas kelembagaan ekonomi di berbagai daerah. Di bawah kepemimpinannya, LPNU Jatim terus menggerakkan program ekonomi jamaah berkelanjutan, agar ranting dan cabang NU tidak hanya berperan sosial, tetapi juga menjadi pelaku ekonomi yang produktif dan mandiri.
Wahyu juga menyampaikan apresiasi terhadap langkah inovatif LPNU Lamongan dalam menjalankan program SRSB. Menurutnya, semangat tersebut dapat menjadi inspirasi bagi cabang-cabang LPNU lain di seluruh Jawa Timur.
“Apa yang dilakukan LPNU Lamongan menunjukkan bahwa kemandirian ekonomi umat bisa dimulai dari langkah konkret di tingkat ranting. Bila semangat seperti ini tumbuh di setiap daerah, NU akan memiliki kekuatan ekonomi yang mandiri dan berdaya saing,” tegasnya.
Sebagai bagian dari program SRSB, turut diluncurkan pula gerakan “Beli Minimal Satu Produk Per Bulan”, yang mengajak jamaah menjadi pasar utama bagi produk ranting. Konsep ini dikenal sebagai Lock-In Demand Ekonomi Umat, dengan prinsip “Sebelum kita jual keluar, pastikan jamaah kita sendiri membeli.”
Sementara itu, Sekretaris LPNU Jawa Timur, Ahmad Fadlur Rahman Bayuny, menilai langkah LPNU Lamongan ini sebagai simbol kebangkitan ekonomi jamaah dari akar rumput.
“Kemandirian ekonomi tidak cukup hanya dibangun dengan modal dan program, tetapi juga dengan keberpihakan. Jika setiap warga NU berkomitmen membeli dan membela produk jamaah sendiri, maka ekonomi NU akan berdiri kokoh di atas kekuatan jamaahnya,” ungkapnya.
Dengan semangat Satu Ranting Satu Brand, LPNU Jawa Timur berharap lahir gerakan ekonomi umat yang berdikari, berkarakter lokal, dan memperkuat posisi NU sebagai kekuatan sosial sekaligus ekonomi yang mandiri di tingkat nasional. (Red/Emha)





