oleh

Selamat Jalan Sahabat Pusawi, Bapak AD/ART PMII Sumenep

Pena Madura, Sumenep, 03 Nopember 2019 – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. H. Moh. Anwar Sumenep, Minggu pagi (03/11/2019).

Cepat sekali dirimu berpulang, Sahabat! Tanpa pamit dan tanda-tanda pula.

Masih terngiang ingatan ini saat-saat bersamamu dulu. Saat kita msh bersama, ngopi bersama, makan senampan bersama, bersenda gurau dalam tawa.

Sahabat-sahabat menyebutmu Bapak AD/ART. Itu tak salah. Sebab begitulah dirimu. Dan mungkin pula caramu mencintai almamater. Bila sudah menyinggung AD/ART PMII, dirimulah yg paling kukuh, kekeh tanpa tawar meruwat idealitas itu. “Bila PMII menemui soal, kembalikan saja pada AD/ART. Gitu saja.” Begitu ujarmu.

Kita semua menjadi saksi bahwa, baktimu pada organisasi, kesungguhanmu merawat kader, dan konsistensimu pada nilai kebenaran, adalah karakter latenmu tak tergugah. “Mun lah sala ye sala. Sapaah beih”. Timpalmu. Dengan raut wajah yg khas.

Memang, tak jarang tingkahmu mengusik suasana, celotehmu menyulut emosi mengundang lara, tapi, di situlah justru kelebihanmu tiada tara. Memegang teguh prinsip.

Satu hal kisahmu yg tak mungkin ku lupa, Sahabat. Pernah suatu ketika, di mana krisis rokok melanda. Kita patungan rokok, lalu menghisapnya sama-sama. Dirimu memulai, diriku selanjutnya. Kita bergantian. Bergiliran sama-rata, sama-rasa. Hingga akhirnya sampai pada isapan terakhir _(kareh sakecrotan),_ kamu pun masih menyodorkannya itu rokok padaku. _”Ini lek. Patade’ pas. Jereah begiennah be’nah.”_ Ujarnya, penuh tawa.

Sy pun sambut rokok yg sejatinya tinggal seuprit itu. Meskipun dg suasana bercanda, tapi hati sy bergumam, ini ka’ Pusawi, dia bercanda tapi mungkin juga serius. Barangkali begitu cara dia hendak mengajarkan arti menggunakan hak/kewajiban yg baik dan benar. Besit hati sy.

Tapi hari ini semua itu tinggal cerita, kak Pus. Cerita yg menyadarkan kita bahwa, sampai kapanpun kebaikan tetaplah kebaikan yg harus kita junjung tinggi. Bahkan, bila kelak ada kadermu bertanya; “apa perlu idealismu itu kita usung mati-matian bahkan sampai mati?” Sy jawab; “HARUS! Kita punya teladan senior yg baik. Ka’ Pusawi. Dia sungguh konsisten memikul idealismenya hingga mati.”

Sahabat, Tuhan lekas menjemputku barangkali adalah caraNya agar timbangan kebaikanmu tetap lebih berat dari pada dosa-dosamu.

Selamat Jalan, Sahabat. Kisahmu abadi. Semoga Engkau damai di sisi-Nya. Amin

_______________
Abd. Mufid*

*Kader PMII STKIP PGRI Sumenep Angkatan 2005.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.

News Feed