oleh

Pangeran Katandur (Syech Ahmad Baidhowi) Syi’arkan Islam Lewat Pertanian

Pena madura, Sumenep 27 Juni 2019 – Sumenep sangat terkenal memiliki hasanah seni dan budaya yang kaya raya.   Termasuk juga wisata budaya releginya, beberapa situs dan makam Ulama besar penyebar Agama Islam ada di daerah ini, termasuk juga makam syekh Ahmad Baidhowi.

Makam yang satu ini kerap juga di sebut Asta Katandur, lokasinya tidak jauh dari kota, hanya sekitar 2 km arah utara dari jantung kota Sumenep, tepatnya di Desa Bangkal Kecamatan Kota Sumenep.

Meski berada di tengah kota Sumenep, namun letak asta yang dikeramatkan oleh masyarakat Sumenep ini jauh dari keramaian, sehingga orang yang berziarah ke asta tersebut tidak terganggu dengan kebisingan bunyi kendaraan yang berlalu lalang.

Keunikan lokasi dan kekeramatan Ulama yang berlakob Pangeran Katandur ini, membuat komplek pemakamannya ramai di kunjungi peziarah.

Syekh Admad Baidhowi yang merupakan cucu dari sunan kudus ini merupakan Ulama yang menyiarkan Agama Islam dengan cara yang cukup unik. Juru kunci Asta Katandur, Hud Al Alydrus menceritakan, Syech Ahmad Baidhowi merupakan Ulama yang alim, namun yang membuat namanya harum dan dikeramatkan masyarakat, disamping beliau sebagai seorang ulama, pria yang di karuniai dua orang putra ini sangat ahli di bidang pertanian “Pertanian adalah media beliau berdakwah, beliau sering memeberikan petunjuk kepada petani cara bercocok tanam yang baik” katanya.

Karena kepandaiannya dalam bertani, sehingga wrga memberikan julukan Pangeran Katandur.

Kata Katandur itu merupakan bahasa jawa yang artinya menanam. Salah satu keistimewaan yang dimiliki Pangeran Katandur ketika beliau menanam tanaman, maka tanaman itu akan berbuah sebelum musim panen “ini yang juga di kenal masyarakat bahwa beliau memiliki karomah,” ungkapnya.

Kondisi pengunjung Asta Katandur yang sangat sejuk di kelilingi banyak pohon tinggi ini tidak seperti di luar bulan puasa, di luar Bulan Ramadlan peziarah sangat banyak, mereka kebanyakan dari luar daerah.

Kalau Puasa yang ramai hanya malam jum’at dan malam selasa, banyak dari mereka yang menginap tapi biasanya di malam lekoran (seperti malam ganji pada bulan Ramadlan).Man/Emha

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.

News Feed