Pena Madura, Sumenep, 29 Oktober 2025 – Dalam rangka memperkuat identitas daerah sekaligus melestarikan nilai-nilai budaya leluhur, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep menetapkan kebijakan baru yang mewajibkan seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) dan tenaga non-ASN mengenakan busana adat keraton Sumenep setiap tanggal 30 hingga 31 Oktober.
Kebijakan tersebut tertuang dalam Surat Edaran (SE) Nomor 4 Tahun 2025 tentang Pemakaian Baju Adat Keraton Sumenep. Kewajiban ini berlaku bagi ASN, non-ASN, serta pegawai BUMD di lingkungan Pemkab Sumenep.
Bahkan instansi vertikal seperti BUMN, lembaga pendidikan swasta, dosen, dan guru juga diminta ikut mengenakan pakaian adat khas keraton tersebut.
Sementara itu, mahasiswa dan pelajar cukup mengenakan batik Sumenep sebagai bentuk partisipasi dalam memperingati Hari Jadi Kabupaten Sumenep.
Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, menyampaikan bahwa kebijakan ini bukan sekadar seremonial, tetapi menjadi simbol kecintaan terhadap budaya dan sejarah daerah.
“Peringatan Hari Jadi Sumenep bukan hanya mengenang perjalanan panjang sejarah, melainkan momentum untuk meneguhkan komitmen dalam melestarikan budaya dan tradisi yang diwariskan para leluhur,” ujar Fauzi, Rabu (30/10/2025).
Ia menambahkan, semangat pelestarian budaya harus diiringi dengan peningkatan kinerja dan pelayanan publik. ASN diharapkan mampu menerjemahkan nilai-nilai luhur budaya ke dalam etos kerja dan pengabdian kepada masyarakat.
“Kami ingin Hari Jadi ini tidak hanya menjadi rutinitas tahunan, tetapi memiliki makna untuk membangun Sumenep yang lebih baik dan menyejahterakan rakyat,” tegasnya.
Meski demikian, Pemkab Sumenep memberikan pengecualian bagi ASN dan non-ASN yang bertugas di lapangan seperti tenaga medis yang sedang melakukan operasi, petugas keamanan, Satpol PP, serta pemadam kebakaran.
Kebijakan ini disambut positif oleh masyarakat dan pegawai daerah. Selain memperkuat rasa bangga terhadap warisan budaya, aturan ini juga dinilai dapat meningkatkan daya tarik wisata dan citra Sumenep sebagai kabupaten berbudaya di ujung timur Pulau Madura. (Red/Emha)





