Jejak Wahyu Pertama di Gua Hira, Ribuan Jemaah Haji Rela Mendaki Jabal Nur

oleh
Jejak Wahyu Pertama di Gua Hira, Ribuan Jemaah Haji Rela Mendaki Jabal Nur

Makkah, Penamadura.com – Gua Hira di puncak Jabal Nur tetap menjadi salah satu destinasi spiritual yang paling diminati jemaah haji Indonesia. Meski tidak termasuk rangkaian wajib maupun rukun haji, banyak jemaah rela menempuh pendakian yang cukup berat demi menapaki tempat bersejarah yang menjadi lokasi turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW.

Perjalanan menuju Gua Hira bukan perkara mudah. Dari kaki Jabal Nur, jemaah harus mendaki sekitar 1,6 kilometer dengan medan berupa tanjakan curam, jalan berbatu, dan ratusan anak tangga. Setelah mencapai puncak, mereka masih harus menempuh perjalanan yang sama saat turun.

Di sepanjang jalur pendakian tersedia dua pilihan rute. Jalur pertama berupa jalan yang dapat dilalui kendaraan dengan kemiringan lebih landai, sedangkan jalur kedua berupa tangga batu yang lebih pendek namun jauh lebih menantang. Menjelang puncak, seluruh pendaki harus melewati tangga sempit yang menjadi satu-satunya akses menuju Gua Hira.

Pantauan Media Center Haji 2026 pada Kamis (18/6/2026) menunjukkan sebagian besar jemaah memilih jalur tangga agar waktu tempuh lebih singkat. Meski demikian, tidak sedikit pula yang memilih jalur landai agar tenaga lebih terjaga.

Pendaki yang datang pun berasal dari berbagai kelompok usia. Selain didominasi kalangan muda, banyak pula jemaah berusia di atas 50 tahun yang tetap bersemangat menaklukkan Jabal Nur.

Salah satunya adalah seorang jemaah asal Aceh Tamiang yang tergabung dalam Kloter 13 Embarkasi Aceh (BTJ 13). Di usianya yang telah melampaui 70 tahun, ia membutuhkan waktu sekitar tiga jam untuk mencapai puncak.

“Orang tak ada yang diburu (waktu). Kalau naik tiga jam, pulang empat jam tak masalah,” ujarnya saat beristirahat di salah satu sudut tangga batu.

Ia memilih jalur kendaraan yang lebih landai karena kondisi penglihatannya yang mulai menurun. Selama perjalanan, ia juga membatasi minum agar tidak kesulitan mencari toilet di sepanjang jalur pendakian.

“Tak berani minum banyak karena takut ingin buang air kecil dan bawa kurma juga,” tuturnya.

Baginya, mendaki Jabal Nur bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi perjalanan batin untuk mengenang perjuangan Rasulullah SAW

“Ini salah satu jejak Rasulullah,” katanya.

 

Jemaah lansia tersebut mengaku sebenarnya telah dua kali berkesempatan datang ke Makkah saat umrah pada 2012 dan 2019. Namun saat itu rombongannya hanya diajak melihat Jabal Nur dari kejauhan tanpa mendaki hingga Gua Hira.

Kesempatan berhaji tahun ini dimanfaatkannya untuk mewujudkan impian yang telah lama tertunda. Ia memilih mendaki seorang diri karena merasa belum tentu memiliki kesempatan kembali ke Tanah Suci.

“Jejak Rasul ada di sini. Rasanya berbeda, karena Nabi pernah berada di tempat ini,” ungkapnya.

 

Gua Hira memiliki arti penting dalam sejarah Islam. Di tempat inilah Nabi Muhammad SAW beruzlah atau mengasingkan diri untuk bertafakur sebelum menerima wahyu pertama melalui Malaikat Jibril. Peristiwa turunnya lima ayat pertama Surah Al-Alaq menjadi awal diutusnya Nabi Muhammad SAW sebagai rasul sekaligus dimulainya penyebaran risalah Islam.

Nilai sejarah dan spiritual itulah yang membuat Gua Hira selalu menjadi tujuan favorit jemaah dari berbagai negara. Meski harus menguras tenaga untuk mencapai puncak Jabal Nur, semangat menelusuri jejak Rasulullah SAW membuat banyak jemaah rela mendaki demi merasakan langsung suasana tempat yang menjadi saksi turunnya wahyu pertama Al-Qur’an.

(M. Hariri, Media Center Haji 2026)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *