Hari Kartini, Wabup Sumenep Apresiasi Keberadaan Empu Keris Perempuan

oleh
Wakil Bupati Sumenep, Nyai Dewi Khalifah saat berkunjung ke Empu Keris perempuan di Sentra Keris Sumenep, Desa Aeng Tongtong
banner 468x60

Pena Madura, Sumenep, 21 April 2021 – Bertepatan dengan Hari Kartini, 21 April 2021 Wakil Bupati Sumenep, Madura, Jawa Timur, Nyai Dewi Khalifah mengunjungi Empu keris perempuan di sentra pengrajin keris Desa Aeng Tongtong, Kecamatan Saronggi.

Keberadaan empu keris perempuan yang menjadi pengrajin keris satu-satunya di Jawa Timur, bahkan mungkin di Indonesia cukup menarik perhatian. Apalagi Kabupaten Sumenep sudah ditetapkan sebagi kota keris oleh Unesco, yakni sebagai daerah yang memiliki mpu atau ahli pengrajin keris terbesar di dunia dengan jumlah 652 orang pada tahun 2018.

banner 336x280

Pengrajin keris perempuan itu bernama Ika Arista. Perempuan Lajang itu masih berusia 30 tahun layak dijuluki “Kartini Keris” berkat kepeduliannyabpada warisan nusantara karena sudah menekuni pembuatan keris sejak masih SD dengan bimbingan ayahnya.

Ia cepat mahir membuat keris karena ia terlahir di desa sentra pengrajin keris. Meski sempat disepelekan karena perempuan, dia tetap tekun.

Perempuan lulusan S1 Keguruan itu kini sudah menguasai teknik pembuatan segala macam jenis keris. Ika mahir membuat keris mulai dari proses pembentukan, ukir bahkan pembuatan warangka. Semua tahapan itu dia kerjakan sendiri.

“Saya merasa terpanggil untuk melestarikan kerajinan yang telah ditekuni keluarga saya. Saya sudah sering mengajak teman sesama perempuan untuk belajar membuat keris, tapi jarang yang tertarik,” katanya, Rabu (21/4/2021).

Sementara itu, Wakil Bupati Sumenep, Nyai Dewi Khalifah yang berkunjung ke rumah Ika Arista menyampaikan apresiasi kepada mpu perempuan satu-satunya di Madura itu. Bahkan mungkin di Indonesia yang mau melestarikan budaya Sumenep.

“Saya berharap ada generasi yang mengetuk-tularkan, walaupun saya yakin tidak semua mampu menjadi mpu apalagi perempuan. Karena dalam membuat keris harus keturunan mpu, karena butuh belajar yang tekun serta ada ritual-ritual khusus dan aturan pakem yang harus dijaga,” tutur wabup yang akrab disapa Nyai Eva tersebut.

Nyai Eva mengaku bangga dan kagum kepada Ika Arista, sebagai perempuan yang punya jiwa seni yang tidak biasa dilakukan oleh perempuan pada umumnya. Sehingga pada momentum hari kartini 21 April, dia menyempatkan diri mengunjungi rumah pengrajin tersebut.

Wabup perempuan pertama di Sumenep itu menambahkan, membuat keris tidak sembarangan, butuh ketenangan dan kesucian jiwa, kesabaran dan menyatu antara jiwa dan karyanya. Apalagi keris itu ada yang sebatas hiasan dan ada keris pusaka yang butuh tahapan khusus.

“Ini harus dilestarikan khususnya oleh generasi muda di Sumenep. Nanti saya juga koordinasikan dengan Disperindag terkait pemasaran. Harapan saya ada log yang dipatenkan agar keris itu punya ciri khas sehingga nanti karya mpu siapa bisa diketahui meski sudah ratusan tahun,” tandas Nyai Eva. (Emha/Man).

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *