oleh

Empat Pilar Kebangsaan, Perekat dan Pengokoh Persatuan Bangsa

Pena Madura, Sumenep, 26 September 2021 – Empat pilar kebangsaan atau juga disebut empat pilar Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI), yang terdiri dari Undang-Undang Dasar (UUD), Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Pancasila dan Bhineka Tungga Ika merupakan unsur perekat dan memperkokoh persatuan bangsa.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Yayasan Dakau Lamak, Hidayaturrahman, pada saat menyampaikan sambutan di acara “Sosialisasi Empat Pilar MPR RI” yang digelar di Sumenep, Jawa Timur, Sabtu, 25 September 2021 yang bertempat di salah satu hotel di Sumenep.

Bupati Sumenep, Achmad Fauzi, menyambut baik kegiatan tersebut. Empat pilar MPR RI yang disosialisasikan seiring dengan semangat masyarakat Sumenep yang memiliki budaya toleran dan menjaga persatuan. “Selama ini tidak ada gejolak sosial dan politik yang mengganggu persatuan dan kesatuan di Kabupaten Sumenep.

Menurut Fauzi, Hal ini juga dibuktikan dengan terus terjaganya kehidupan sosial dan politik yang kondusif dan aman. Hal ini menjadi bukti, bahwa masyarakat Sumenep sangat menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi. Sehingga sosialisasi empat pilar menjadi semakin relevan,” ujar Ahmad Fauzi dalam pidato sambutan yang dibacakan oleh Ahmad Masuni, Asisten I Pemerintah Kabupaten Sumenep.

Hidayat Nur Wahid, Wakil Ketua MPR RI mengapresisasi masyarakat Sumenep yang selama ini telah menjaga kedamaian dan ketenteraman di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Saya sangat bangga dengan masyarakat Sumenep yang telah menunjukkan kepada seluruh bangsa dan dunia, bahwa masyarakat Sumenep menjadi contoh dan bagian dari sikap menjaga pilar kebangsaan yang terus dilakukan,” ujar Hidayat pada saat menyampaikan materi sosialisasi secara daring.

Achmad Syaikhu, anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) yang menjadi pembicara dan hadir secara luring di Kabupaten Sumenep mengaku senang bisa hadir di Kabupaten Sumenep, yang dikenal sebagai salah satu kabupaten di Madura dengan ragam budaya dan seni yang telah dikenal secara turun-temurun.

“Penting bagi kita semua untuk terus merawat nilai-nilai kebangsaan yang telah kita praktikkan bersama, yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika,” papar Syaikhu saat menyampaikan materi sosialisasi di hadapan para peserta.

Sebagai bentuk penghargaan terhadap keragamaan masyarakat Kabupaten Sumenep, acara ini diisi dengan atraksi budaya manca, sebagai salah satu seni tradisional masyarakat Bajo dari Kepulauan Sapeken, yang dipersembahkan oleh Himpunan Mahasiswa Kepulauan Sapeken Sumenep (Himpass). Acara ditutup dengan pemberian penghargaan kepada tokoh nelayan kepulauan, Nehwan dan tokoh perempuan Nurul Supiati.(Man/Emha)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

News Feed