Pena Madura, Sumenep, 4 September 2021 – Massifnya berita bohong (hoax) terkait vaksin Covid-19 yang beredar di masyarakat, berdampak pada rendahnya vaksinasi pelajar di Kabupaten Sumenep, Madira, Jawa Timur.
Pernyataan itu disampaikan oleh Plt Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Sumenep Moh. Iksan saat melakukan peninjauan vaksinasi di SMP 3 Sumenep.
“Harapan kita semestinya harus 100 persen siswa di vaksin, namun karena masih ada berita hoak tetang vaksinasi yang masuk pada masyarakat, dari itu para orang tua siswa masih banyak orang tua yang tidak memperbolehkan anaknya untuk di vaksin,” kata Iksan kepada Media.
Untuk vaksinasi di SMP 3 Sumenep berjumlah 38 siswa tentu jauh dari target capaian vaksinasi. Pemicu ini karena wali murid masih banyak informasi hoax. “Sehingga 38 siswa yang mendapat izin dari orang tuanya untuk di vaksin,” tuturnya.
Menurut Iksan, meskipun demikian pihak akan tetap sosialisasikan soalnya penting vaksin untuk meningkatkan herd immunity..
“Untuk saat ini siswa yang di vaksin 38 siswa, jadi masih banyak yang perlu diberikan pencerahan pada orang tua siswa, supaya memberikan izin pada anaknya untuk di vaksin,” tuturnya.
Sementara itu untuk kabupaten sumenep, kemarin rapat dengan tim satgas hanya sekitar 10,6% jadi masih nomor dua dari belakang dari seluruh provinsi jawa timur.
Kepala Sekolah SMP 3 Sumenep Syaiful Rijal mengatakan pada pelaksanaan vaksinasi saat ini hanya diikuti oleh 38 siswa dengan teknis petugas vaksinasi mendatangi sekolah.
“Kami juga mengundang orang tua siswa untuk mendampingi dan memberi motivasi kepada anaknya, sehingga vaksinasi hari ini berjalan dengan lancar dan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” ungkapnya.
Pihak sekolah sebelumnya telah mengirim surat edaran kepada wali murid untuk membuat surat pernyataan
apakah putranya diizinkan atau tidak untuk divaksin.
“Ternyata setelah kami rekap surat pernyataan dari orang tua siswa hanya ada 38 siswa yang diizinkan,” tuturnya
Penyebab dari minimnya vaksinasi dikalangan pelajar Syaiful Rijal mengatakan, hal itu tidak lain karena adanya berita hoax.
“Sebab, berita hoak yang masuk pada masyarakat menjadi pengaruh, terhadap pelaksanaan vaksinasi di kota keris ini,” pungkasnya. (Emha/Man).