Pena Madura, Sumenep, 13 Juni 2025 – Kelangkaan gas LPG 3 kg yang belakangan dikeluhkan masyarakat di berbagai wilayah Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, mendapat sorotan tajam dari kalangan legislatif. Anggota Komisi II DPRD Sumenep, Juhari menilai pemerintah daerah tidak bisa hanya mengandalkan klaim aman dari sisi distribusi, sementara kondisi di lapangan menunjukkan sebaliknya.
“Bukan hanya harga yang jauh di atas HET, tetapi masyarakat juga kesulitan mendapatkan gas melon. Ini bukan semata-mata soal peningkatan konsumsi, tapi soal lemahnya pengawasan,” tegas Juhari, Jumat (13/6/2025).
Menurut Juhari, tambahan 30.000 tabung LPG yang diklaim telah disalurkan oleh Pertamina belum menyentuh masyarakat bawah yang paling terdampak. Ia menyayangkan pemerintah daerah hanya fokus mengatur distribusi hingga tingkat sub agen tanpa menindak tegas pengecer yang menjual di atas harga eceran tertinggi (HET) Rp18.000.
“Kalau tidak ada tindakan konkret terhadap pengecer nakal, ya sama saja. Tambahan kuota hanya jadi angin lalu. Ini persoalan klasik yang terus berulang tiap tahun,” tambah politisi PPP itu.
Juhari mendesak Pemkab Sumenep untuk turun langsung ke lapangan, tidak hanya mengandalkan laporan agen atau data statistik. Ia juga mendorong adanya solusi jangka panjang agar persoalan serupa tidak terus berulang, terutama di masa-masa permintaan meningkat.
“Jangan hanya tambal sulam saat ramai keluhan. Butuh regulasi dan pengawasan yang konsisten serta melibatkan masyarakat dalam pelaporan dugaan pelanggaran distribusi gas subsidi ini,” pungkasnya.
Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep melalui Kepala Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah, Dadang Dedy Iskandar, yang menyatakan distribusi gas LPG 3 kg dalam kondisi lancar dan tidak terjadi kelangkaan. Dadang berdalih bahwa peningkatan konsumsi masyarakat saat hari besar dan libur panjang menimbulkan kesan seolah-olah terjadi kekurangan.
Namun kenyataan di lapangan
menunjukkan fakta berbeda. Sejumlah warga mengaku harus berkeliling dari satu pangkalan ke pangkalan lain demi mendapatkan tabung LPG 3 kg.
“Saya muter-muter tetap nggak dapat, kosong semua. Kalaupun ada, harganya sampai Rp25 ribu,” keluh Wafi, dalah satu warga Kecamatan Pragaan. (Red/Emha).





