oleh

Serunya Kerapan Kerbau Di Pulau Kangean Sumenep

Pena Madura, Sumenep, Sabtu 20 Januari 2018- Rasa cinta dan memiliki terhadap kebudayaan kerapan kerbau yang merupakan warisan nenek moyang warga Pulau Kangean Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur (Jatim), memang patut di ajungi jempol.

Sebab meski budaya kerapan kerbau seakan-akan luput dari perhatian pemerintah, budaya kerapan kerbau yang menjadi kebanggaan masyarakat petani di Kecamatan Arjasa Pulau Kangean tersebut terus berkembang dan di lestarikan dengan baik.

Terbukti di setiap pasca musim tanam, kerapan kerbau tersebut selalu di gelar rutin setiap akhir pekan dengan sangat meriah, bahkan para pecinta kerapan kerbau dari berbagai Desa berkumpul di lapangan yang sudah di tentukan.

Mereka yang memiliki kerbau laki-laki pasti datang membawa kerbaunya untuk di kerap atau yang di kenal dengan istilah “jhejhel” yaitu kerapan kerbau dengan cara di lepas sepasang-sepasang kemudian di kejar dengan dua atau empat ekor kuda di belakangnya untuk memacu kecepatan kerbau berlari.

Salah satu pecinta kerapan kerbau, Misnadin (46), warga desa air jambu kecamatan arjasa mengaku para pemilik kerbau merasa sangat bangga dan senang sekali bisa mempertahankan budaya kerapan kerbau yang merupakan warisan budaya nenek moyang para petani.

“Saya sangat senang bisa melestarikan kerapan kerbau ini karena ini salah satu warisan budaya dari nenek moyang warga pualu kangean,” kata Misnadin, Sabtu (20/1/2018).

Dalam pelaksanaan di lapangan kerapan kerbau ada tiga model, yaitu kerapan kerbau di tanah lapang dan kering ada cua cara yaitu jhejhel dan lombe. Jhejhel yaitu kerbau di lepas sepasang kemudian di pacu dengan beberapa penunggang kuda.

Sedangkan lombe yaitu dua pasang kerbau di lepas bersamaan kemudian di pacu dengan beberapa penunggang kuda di belakangnya mulai dari garis start hingga garis finish. Sedangkan yang terkhir adalah kerapan mamajhir, yaitu pasangan kerbau di kerap di ladang setelah membajak sawah sebelum di Tanami bibit padi atau bulir.

“Kalau jhejhel di gelar setiap hari sabtu menjelang siang, sedangkan lombe di gelar setiap hari minggu pagi,” ujarnya.

Kerapan kerbau sebenarnya merupakan satu-satunya di kabupaten sumenep, dan selama ini kerapan kerbau hanya di lestarikan oleh para petani dan pecinta kerbau di pulau kangean, saat ini kerapan kerbau di gelar di dua desa setiap akhir pekan yaitu di lapangan desa air jambu dan Desa Angkatan Kecamatan Arjasa Pulau Kangean.

Pemerintah Kabupaten Sumenep di harapkan bisa ikut menjaga dan melestarikan budaya kerapan kerbau di pulau kangean sebagai salah satu kekayaan budaya yang ada di ujung timur pulau garam Madura.

“Saya harap ada perhatian dari Pemerintah untuk terus melestarikan kerapan kerbau di Kangean ini,” imbuhnya. (Man)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed