oleh

Minat Masyarakat Terhadap Program Wirausaha Muda Tinggi

Pena Madura, Sumenep, 10 Oktober 2019 – Minat masyarakat di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, untuk mengikuti Program Wirausaha Muda tinggi. Terbukti dari seluruh jenis pelatihan yang digelar, kuota pesertanya selalu terpenuhi bahkan pendaftar melebihi kapasitas.

Tingginya minat masyarakat pada program yang diperuntukkan untuk mencetak pengusaha itu, terbukti dengan adanya beberapa masyarakat yang tetap mendaftar meskipun umurnya sudah melewati kriteria yang ditetapkan. Kondisi ini terjadi di benerapa jenis pelatihan baik perbengkelan, percetakan hingga olahan.

Meski sudah tak masuk kriteria umur, Dinas Koperasi dan Usaha Mikro (Diskop) Kabupaten Sumenep nengaku tetap merekomendasikan kepada Enterpreneur Training and Development Center (ETDC) selaku pelaksana swakelola program itu agar tetap dilatih.

“Kita sampai ada pendaftar yang umurnya lebih, tapi tetap kita akomodir untuk bisa dilatih oleh ETDC, tapi bukan sebagai peserta yang masuk data. Tapi kalau soal fasilitas pelatihan kita kasih, bahkan makannya juga kita tanggung,” kata Fajar Rahman, Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Sumenep. Rabu (9/10/2019).

Program Wirausaha Muda itu, hakikatnya untuk menekan angka pengangguran di Sumenep dan menjadi program unggulan dari Bupati dan Wakil Bupati Sumenep, A. Busyro Karim dan Achmad Fauzi. Sementara cikal bakalnya berada di 8 OPD.

“Program itu embrionya berada di 8 OPD, diantaranya Diskop, Disperindag, Disnaker, BPMPKB, Dinas Perikanan, Dinas Pertanian, termasuk beberapa OPD terkait yang dilakukan pelatihan. Pesertanya berjumlah 1000 peserta dalam 1 tahun, yang diswakelolakan ke PIWS awalnya,” bebernya.

Mantan Kepala Satpol PP itu menjelaskan, dalam perjalanannya karena pelaksanaan dan bantuan alatnya tersebar di beberapa instansi, kemudian dievaluasi hingga akhirnya disentralkan di Dinas Koperasi dan Usaha Mikro hingga kemudian tahun ini diswakelolakan pada ETDC.

“Tahun 2016 itu, bantuan yang diberikan lewat masing masing OPD kepada peserta banyak disalah fungsikan. Bahkan sebagian ada yang sampai dijual. Tahun 2017 nya, lahirlah solusi untuk disatukan di Diskop,” jelasnya.

Setelah program tersebut ditangani Diskop pada tahun 2018, format sedikit dirubah dengan cara memusatkan pelatihan dan pemberian bantuan alat langsung disentra produksi.

“Sejak saat itu para alumni wirausaha kita satukan disentra, mereka belajar bersama dan memproduksi bersama. Semisal yang bergerak di catering, jadi dikelola dan belajar bersama sama, termasuk pola managementnya. Begitu juga yang belajar menjahit, konfeksi dan lainnya. Hasilnya dibagi bersama, kami tidak ikut campur,” kata dia.

Sebagai komitmen pemerintah dalam memberdayakan para lulusan wirausaha muda. Pihaknya mengaku telah berupaya memberikan jalan untuk membantu manakala terdapat kendala dalam menjalankan usahanya.

“Bagi mereka yang sudah paham dan ingin mandiri, kita persilahkan. Bahkan kita fasilitasi jika terdapat kendala semisal kurang peralatan, kita akan carikan bantuan di dinas-dinas terkait, mereka tidak akan kami tinggal,” tegasnya.

Untuk tahun ini, tidak ada bantuan alat, karena saat ini langsung ke sentra. Namun, jika di tahun 2020 dibutuhkan, Fajar memastikan akan memprogramkan kembali pemberian bantuan.

“Mereka kan sudah berbentuk kelompok, dan ini sudah embrio untuk membentuk koperasi, karena target kita kan ke sana,” tutupnya. (Emha/Man)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

News Feed