oleh

“Malaikat” dan “Setan” di Balik Banjir Sumenep

Benarkah Kritik Harus dengan Solusi?

Suatu siang, terjadi hujan lebat dengan durasi cukup lama di Kota X. Gorong-gorong tak mampu menampung debit air. Satu-satunya sungai pembuangan air pun meluap. Banjir tak dapat dihindari.

Genangan air tampak di nyaris semua ruas jalan protokol. Ketinggiannya sekitar lutut orang dewasa yang menyebabkan banyak pengendara ragu melintasinya.

Meski begitu, ada juga pengendara yang berani mengambil resiko. Mereka dengan enteng menerobos genangan air. Ada yang “selamat”, ada pula yang “tamat”; kendaraannya mogok di tengah genangan.

Kejadian tersebut tentu memantik perhatian banyak orang. Mulai dari dalang, wayang, tukang tabu musik, pengamat dadakan, hingga masyarakat biasa. Bentuk perhatian mereka mudah ditemukan di media sosial.

Perhatian mereka diekspresikan dalam banyak bentuk. Tapi paling banyak berbentuk kritik terhadap pemerintah. Kritikannya juga bertingkat. Mulai dari yang blak-blakan sampai yang satire. Bahkan ada pula yang berbau hujatan.

Menyikapi hujan kritik tersebut, biasanya ada oknum pemerintah dengan tanpa merasa berdosa mengatakan, kritik harus disertai solusi. Tidak asal nyorocos. Agar tak seperti sayur tanpa garam.

Bagi saya pribadi, pernyataan seperti itu sama sekali tak berkualitas dan menunjukkan bahwa orang yang mengatakan sebenarnya malas bekerja. Karena, kritik ada tujuannya memang untuk melahirkan solusi.

Siapa yang seharusnya melahirkan solusi? Apakah si pembuat kritik atau yang dikritik? Jawabannya, dalam hal ini, ialah siapa yang menjadi objek dari kritik itu sendiri; pemerintah.

Kenapa harus pemerintah? Karena mereka dibayar memang untuk mengurus persoalan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Bukan sebaliknya. Karena kalau untuk mencari solusi saja masyarakat harus “turun tangan”, terus situ digaji untuk apa?.

Lalu, apa salah jika masyarakat memberikan solusi kepada pemerintah? Tidak! Asalkan solusi yang ditawarkan tepat dan aplikatif. Tidak hanya manis saat dipaparkan, namun pahit ketika hendak diaplikasinya. Agar uang negara tak habis hanya untuk hal-hal tidak berguna.

Alif*

*Sebuah catatan untuk banjir Sumenep

Sumenep, 27 Februari 2018

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed